Seuntai Impian Sunyi: Menguntai Butir-butir Impian


 {REVIEW BUKU}


#NgereadKuy

#KMC9

#BacaBuku


“MENGUNTAI BUTIRAN TIRAI MANIK-MANIK”


Judul               : Seuntai Impian Sunyi (Yi Lien Yu Meng)

Penulis           : Chiung Yao

Alih bahasa  : Pangesti A. Bernardus dan tim

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbitan        : 1997

Tebal Buku   : 335 halaman

ISBN                : 979-605-638-0

 





Celing bukan wanita pertama yang singgah dalam kehidupan Fei Yunfan. Sebelum berkenalan dengannya, Yunfan – pengusaha sukses berusia 38 tahun – telah memiliki sederet kisah kelam dengan beberapa wanita lain. Namun, sejak pertemuan pertama, Celing yang lugu dan baru berusia 19 tahun telah mencuri hati Yunfan. Sayangnya, perhatian Celing hanya tertuju pada Chu Lian, pemuda yang kebetulan juga dicintai kakaknya, Luping. Sementara Chu Lian yang sebenarnya menaruh hati pada Celing, tak dapat melarikan diri tadi tanggung jawabnya pada Luping. Bagaimana akhir kisah cinta segi empat yang melibatkan kakak-beradik ini? Apakah masing-masing pihak dapat meraih kebahagiaan dan mewujudkan impiannya? Atau semuanya harus berakhir dengan tragedi? – (Seuntai Impian Sunyi)

Mengingat materi penulisan blurb yang sempat dibahas di kelas fiksi Komunitas Menulis Cerdas beberapa waktu lalu, menurut saya, blurb cerita ini cukup bagus. Susunan kalimatnya ringkas, tapi dapat menyampaikan dengan jelas informasi yang perlu diketahui pembaca terkait tokoh-tokoh penting dalam cerita. Konflik utama kisahnya pun digambarkan dengan baik, tidak spoiler dan justru dapat memancing pembaca untuk berspekulasi.

Tema yang diangkat sebetulnya sangat klasik, tapi kemasannya yang apik membuat kisah ini tetap menarik. Ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca dimungkinkan untuk lebih leluasa menyelami pemikiran dan perasaan Celing sebagai tokoh utama. Unsur romantisme dalam kisah ini sangat kuat terasa, baik melalui setting maupun interaksi para tokohnya. Tirai manik-manik yang menjadi ikon utama cerita, menurut saya, juga merupakan suatu daya tarik tersendiri. Mengingat kisah ini sedikit banyak juga mengandung pembahasan tentang hubungan antara pasangan yang sudah menikah, menurut saya, buku ini lebih cocok untuk konsumsi pembaca usia dewasa.

Gaya bahasa terjemahan kisah ini sangat mengalir dan enak untuk dibaca. Pembaca pun dibuat terhanyut dalam dilema cinta segi empat yang menjerat para tokohnya. Masing-masing karakter yang ditampilkan dengan sangat natural, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya, juga membuat pembaca dapat dengan mudah bersimpati, termasuk pada tokoh antagonisnya.

Ada dua konflik besar dalam cerita ini, masing-masing ada di bagian awal dan menjelang akhir, yang cukup mampu membuat emosi pembaca cukup naik turun. Meski menurut saya penyelesain konflik pertama agak terlalu “dimudahkan”, penjelasan yang dicantumkan oleh penulis rasanya memang masih cukup masuk akal dan mampu meredakan keheranan saya. Secara keseluruhan, cerita ini berakhir dengan cukup menyentuh dan melegakan, setelah sebelumnya diwarnai ketegangan yang memuncak.

Sebuah kisah cinta empat anak manusia yang dituturkan dengan sederhana tapi memikat. Begitu kira-kira gambaran saya tentang buku ini.  


Posting Komentar

0 Komentar