Serial Gadis Kretek (Cigarette Girl) yang tayang perdana di Netflix pada 2 November lalu sedang ramai menjadi bahan perbincangan. Pasalnya, film ini berhasil menduduki daftar Top 10 selama lebih dari dua minggu dan ditonton lebih dari 1,6juta jam.

 

Selain menampilkan sejumlah aktris ternama, film yang diangkat dari novel karya Ratih Kumala ini memang menyuguhkan jalan cerita yang greget. Lantas, seperti apakah liku-liku kisah Gadis Kretek yang fenomenal tersebut?

 

Detail dan Sinopsis Film “Gadis Kretek”

(Sumber gambar: detik.com)

Judul                  : Gadis Kretek

Sutradara           : Kamila Andini dan Ifa Isfansyah

Produser            : Shanty Harmayn, Tanya Yusron, dan Fauzar Nurdin

Penulis Skenario     : Ratih Kumala

Pemain              : Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Arya Saloka, Putri Marino, dkk

Produksi            : Base Entertainment dan Forka Films

Distributor          : Netflix

Genre                 : Drama Sejarah (17+)

Durasi                : 5 episode @+60menit (Tamat)

 

Soeraja, pemilik perusahaan rokok kretek DR yang ternama sedang sakit keras. Sadar bahwa dirinya tak punya banyak waktu lagi, beliau meminta putra bungsunya, Lebas, untuk mencari seseorang yang dipanggilnya Jeng Yah.  

 

Berbekal sehelai foto dan beberapa catatan buku harian lama, Lebas memulai pencariannya dengan berkunjung ke Museum Kretek di Kota M. Kunjungan itu mempertemukan Lebas dengan dr. Arum yang mengenali salah seorang dalam foto sebagai anggota keluarganya.

 

Sayang, Arum yang bahkan tidak terlalu mengenal sosok ayah kandungnya sendiri itu tidak bisa memberikan petunjuk lebih banyak mengenai sosok Jeng Yah.

 

Beruntung, gadis itu mau membantu Lebas membongkar berkas-berkas lama milik keluarganya yang tersimpan di museum demi memenuhi permintaan terakhir Soeraja.

 

Pencarian itu sedikit demi sedikit mengantarkan keduanya untuk menyingkap rahasia keluarga Arum serta masa lalu Soeraja, yang ternyata saling berkaitan.

 

Menelaah Keistimewaan dari Komponen Cerita Gadis Kretek


Sebagai sebuah karya seni, kisah Gadis Kretek ini tentunya memiliki sejumlah aspek yang menarik untuk dijadikan bahan pembelajaran, antara lain:

 

Mengangkat isu feminis melalui cerita bertema klasik

Isu feminis ini disuarakan oleh sosok Dasiyah yang lebih berhasrat untuk terjun dalam bisnis kretek ayahnya ketimbang berumah tangga. Berbeda dengan Rukayah, adiknya, Dasiyah lebih mahir melinting tembakau ketimbang menjahit atau memasak.

 

Sayang, bakatnya menilai tembakau dan meracik saus kretek tidak sepenuhnya mendapat apresiasi karena ia “hanya” seorang perempuan. Yang lebih diharapkan darinya demi menyukseskan bisnis keluarga adalah menikahi pasangan yang tepat.  

 

Selain perjodohan dalam rangka ekspansi bisnis, romansa antar pasangan yang berbeda latar belakang juga menjadi bagian dari skenario kisah ini. Tema klasik tersebut bisa dibilang hampir tak pernah kehilangan daya tarik untuk terus dikulik.

                                               

Menampilkan latar tema yang unik

Keberanian penulis untuk mengambil industri kretek sebagai latar tema cerita tentunya patut mendapat apresiasi. Pasalnya, relatif belum terlalu banyak cerita yang mengupas seluk beluk industri ini, khususnya di Indonesia.

 

Hal itu barangkali disebabkan adanya pertimbangan menyangkut slogan yang memperingatkan mengenai dampak rokok yang berbahaya untuk kesehatan.

 

Uniknya lagi, serial ini juga mengajak penonton untuk beralih sejenak dari Jakarta dan bertualang ke daerah Jawa Tengah.

 

Keputusan penulis untuk menggunakan nama Kota M dalam cerita ini juga terbilang cerdik dan bijaksana. Kemungkinan, tujuannya adalah untuk mencegah kota tertentu mendapat predikat sebagai Kota Kretek (yang bisa jadi berkonotasi negatif).

 

Selain itu,  tindakan tersebut juga menciptakan suatu misteri tersendiri yang membuat penonton penasaran, di mana gerangan sebenarnya Kota M ini.

 

Trik tersebut tentunya bisa menjadi bahan pembelajaran dan referensi baru bagi Teman-teman yang kebetulan menggeluti dunia tulis menulis.  

 

Memasukkan unsur sejarah yang sifatnya cukup krusial untuk memperkuat konflik

Penggunaan setting tahun 1960-an memungkinkan penulis untuk memasukkan sebuah peristiwa sejarah yang cukup krusial sebagai bagian dari konflik ceritanya.

 

Isu komunisme yang terbilang cukup sensitif ini diramu secara apik dan proporsional sehingga ceritanya tidak terkesan seperti drama sejarah murni. Menyentil, tapi tidak sampai terlalu jauh mengorek luka lama.  

 

Banyak pihak yang setuju kalau keberadaan insiden berdarah yang penuh intrik itu mampu menjadi alasan kuat bagi runtuhnya dunia Dasiyah.  

 

Merangkai kisah klasik dalam bingkai masa kini

Film ini menerapkan alur maju mundur yang secara bergantian menyuguhkan liku-liku kisah cinta dan perjuangan Dasiyah sekaligus pencarian Lebas. Hal itu menciptakan perpaduan yang unik antara nuansa klasik dan kekinian.

 

Lebih jauh, menonton film ini juga ibarat sedang menyusun kepingan-kepingan puzzle untuk mengungkapkan misteri keberadaan Jeng Yah. Jadi, tidaklah mengherankan jika rasa ingin tahu penonton jadi makin terpancing.

 

Menyuguhkan sejumlah plot twist dan cliff hanger  yang mampu mencuri atensi

Selain menerapkan alur maju mundur, serial ini juga mengandung sejumlah plot twist yang mengundang tanda tanya menjelang tiap akhir episodenya.

 

Jadi, penonton pun niscaya akan dibuat makin penasaran sehingga tak sabar untuk menonton serial ini secara marathon sampai selesai.

 

Keseruan Pengalaman Menonton Serial Gadis Kretek



Kepiawaian akting Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, serta artis-artis ternama lain yang terlibat dalam serial ini tentu tak perlu diragukan lagi. Mereka mampu menghidupkan sekaligus mengajak penonton menyelami setiap karakter yang diperankannya.  

 

Narasi kuat yang disuarakan oleh Dasiyah mengenai isu feminisme sungguh merupakan adegan pembuka yang segera sukses mencuri perhatian.  

 

Secara pribadi, Esy awalnya sempat agak gemas dengan karakter Dasiyah dan Arum yang kaku, tidak bersenyum, dan terkesan judes. Namun, hal itu dengan cepat tersisihkan seiring bergulirnya kisah mereka.

 

Sejak episode pertama, penonton sudah disuguhi plot twist yang mensinyalir kalau kemungkinan jalan cerita film ini tidak sesederhana yang diperkirakan. Hal ini memang bisa dibilang benar adanya.

 

Jalinan romansa pasangan tokoh utamanya terbilang cukup simpel, tanpa dialog atau adegan berbunga-bunga, tetapi tetap berkesan mendalam. Prahara yang terjadi  ketika perjuangan para tokoh sudah mulai berhasil pun sontak memicu simpati.  

 

Di sisi lain, alasan Soeraja begitu ngotot ingin menemukan Jeng Yah niscaya akan membuat penonton geregetan dan penasaran menebak. Pasalnya, ketika motif itu sepertinya sudah terungkap, fakta-fakta baru justru bermunculan dan menyiratkan kalau urusannya bukan sebatas soal asmara.

 

Akhir kisah ini cukup membuat miris dan tercengang karena menyadari betapa besar dampak kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh sebuah kedengkian.

 

Insight dan Pembelajaran dari Serial Gadis Kretek


Selain seru dan berkesan, serial Gadis Kretek juga menyimpan sejumlah insigh dan pesan moral yang menarik untuk direnungkan, antara lain:  

 

Berhati-hatilah agar jangan sampai mempercayai orang yang salah

Melalui sepak terjang tokoh utama pria yang diperankan oleh Ario Bayu, penonton diingatkan agar lebih berhati-hati dalam mempercayai seseorang. Apalagi, jika kepercayaan itu menyangkut sesuatu yang teramat penting.  

 

Kita memang tidak sepatutnya menjadi pribadi yang pencuriga. Namun, kita tetap perlu mengembangkan kewaspadaan dan kejelian dalam menilai sebelum memutuskan untuk menaruh kepercayaan pada seseorang.

 

Semua orang tua pernah muda dan bisa jadi melakukan kesalahan

Melihat sosok mereka yang jauh lebih matang dan berwibawa, terkadang kita lupa kalau orang tua kita juga pernah muda. Jadi, bukan tidak mungkin mereka pun pernah mengalami kesulitan untuk bisa membuat keputusan yang benar di masa lalunya.

 

Mengingat beberapa kesalahan dan masalah seringkali sulit untuk diselesaikan,  bisa jadi orang tua kita terpaksa menyimpannya sendiri. Sembari memendam luka, mereka pun berusaha sebisanya untuk melangkah ke masa depan demi kita, keluarganya.

 

Melalui sosok Soeraja, film ini seolah mengingatkan anak-anak muda agar bisa bersikap lebih lembut dan pemaaf kepada orang tuanya.

 

Kesuksesan yang diraih dengan cara keliru tidak akan pernah menghasilkan kebahagiaan sejati

Masyarakat boleh jadi menghormati dan mengagumi Soeraja karena kekayaan dan jiwa sosialnya. Namun, hal itu tidak pernah bisa menghapus rasa bersalah pria itu karena merasa menyadari bisnisnya bermula dari sesuatu yang tidak pada tempatnya.

 

Hasil karya seseorang hampir selalu mencerminkan kepribadian orang itu

Opini yang dikemukakan oleh salah satu karakter figuran dalam film ini bisa dibilang sudah diakui kebenarannya secara umum. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sisi unik yang akan selalu nampak pada hal-hal yang dikerjakannya.

 

Selaras dengan itu, karya yang dibuat dengan sepenuh hati dan jiwa niscaya akan memiliki kualitas yang unggul.

 

No Smoking, Please

Meski pembahasannya banyak berkaitan dengan industri kretek, tentunya serial ini tidak bermaksud untuk menyemangati penonton agar menjadi perokok.

 

Sejatinya, secara tersirat film ini justru mengingatkan bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan melalui tokoh-tokohnya yang sering batuk-batuk, bahkan terkena kanker. So, no smoking, please.

 

Apakah Jalan Cerita Serial Gadis Kretek Sama Dengan Bukunya?

Pertanyaan yang satu ini rasanya bisa dibilang sontak menghantui beberapa orang yang sudah menonton serial Gadis Kretek di Netflix.

 

Kalau Teman-teman termasuk salah satunya, boleh langsung saja beli bukunya via Gramedia.com mumpung sedang ada diskon. Ada yang versi covernya sama dengan poster filmnya juga, lho. Cakep, deh!



Jadi, apakah Teman-teman tertarik atau malah sudah menonton serial Gadis Kretek? Kalau sudah, bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?